Skip to main content

Memaafkan

Mari mulai instropeksi :

Adakah seseorang yang dengan sengaja aku putuskan tali silahturahminya?
Ada.

Berapa lama? 
Duh, udah lama banget. 

Coba di cek, jangan-jangan aku menyimpan kebencian?
Aduh, masa iya sih?

Apakah setiap aku inget dia membuat perasaanku menjadi nggak nyaman?
Banget.

Pernahkah aku berharap dia mendapat balasan?
Dulu pernah, sekarang udah enggak.

Apakah kejadian masa lalu itu aku sesali?
Kadang-kadang.

Apakah aku selalu melihat kejelekannya terus, tidak pernah melihat kebaikannya?
Ah, sayangnya, iya.

Trus solusinya apa dong?
Konon katanya level tertinggi memaafkan adalah membalas dengan kebaikan/doa.

Bisa nggak aku?
Berdoa buat dia? Emoh.

Kalau ketemu dia?
Boleh, siapa takut.

Aku akan ngajak ngobrol dia?
Harus.

Menyelesaikan masalah yang dulu?
Pasti.

Memaafkan?
Kita lihat aja nanti.



Comments

Popular posts from this blog

.

Sejak dulu Timbuktu adalah tempat pelarian yang sempurna. Belakangan ini ada alternatif lain yang bisa dilirik. Ga perlu jauh-jauh sampai menyeberang lautan.
Kemarin ada pamerannya.  Mustinya aku mengambil brosurnya. Siapa tau suatu hari nanti aku membutuhkannya. 
Namanya Julikarta.

Efisien Dengan Smartphone

Semenjak Prince menggunakan hp jadulnya, aku jadi terinspirasi untuk menyederhanakan isi smartphoneku, supaya aku nggak sedikit-sedikit lihat hp.
Tapi aku bukan Prince. 
Walaupun kami pasangan, tinggal serumah, bukan berarti gaya hidup kami sama persis plek.
Aku sih ogah kalau balik ke jaman purbakala, menggunakan hp yang monokrom, dengan keyboard bukan qwerty dan pilihan ringtonenya jayus. Itu bukan aku banget.
Yang bisa dipetik dari gaya hidup bertelpon-rianya Prince adalah efisiensi.
Jika dia bisa efisien dan produktif dengan hp jadulnya, maka dengan teknologi yang lebih baik, mustinya aku bisa lebih produktif dan efisien dengan smartphoneku.
Teknologi mustinya membuat waktu luang kita lebih banyak. Contoh sederhana : mesin cuci. Tinggal masukkan baju lalu pencet tombol, kita bisa mengerjakan hal lain.
Begitu juga dengan smartphone. Harusnya smartphone membuat waktu luang kita lebih banyak, bukannya sebaliknya.
Caranya? Menghilangkan aplikasi yang membuat waktuku menjadi tidak efi…

Menulis Lagi

Setiap pagi setelah bangun tidur, aku selalu duduk diam sambil menikmati secangkir kopi dalam keheningan saat matahari terbit. 

Lalu aku berpikir dengan tenang, merenungkan kehidupan. Haseeek..
Kadang-kadang aku juga membaca buku beberapa halaman. 
Sampai kemarin aku berpikir, mungkin lebih nikmat lagi jika pagi hari yang damai di isi dengan duduk manis, menuliskan semua ide-ide dan pikiran yang menarik hatiku. 
Sepertinya indah.
Jadilah pagi ini aku bikin blog.