Skip to main content

Memaafkan

Mari mulai instropeksi :

Adakah seseorang yang dengan sengaja aku putuskan tali silahturahminya?
Ada.

Berapa lama? 
Duh, udah lama banget. 

Coba di cek, jangan-jangan aku menyimpan kebencian?
Aduh, masa iya sih?

Apakah setiap aku inget dia membuat perasaanku menjadi nggak nyaman?
Banget.

Pernahkah aku berharap dia mendapat balasan?
Dulu pernah, sekarang udah enggak.

Apakah kejadian masa lalu itu aku sesali?
Kadang-kadang.

Apakah aku selalu melihat kejelekannya terus, tidak pernah melihat kebaikannya?
Ah, sayangnya, iya.

Trus solusinya apa dong?
Konon katanya level tertinggi memaafkan adalah membalas dengan kebaikan/doa.

Bisa nggak aku?
Berdoa buat dia? Emoh.

Kalau ketemu dia?
Boleh, siapa takut.

Aku akan ngajak ngobrol dia?
Harus.

Menyelesaikan masalah yang dulu?
Pasti.

Memaafkan?
Kita lihat aja nanti.



Comments

Popular posts from this blog

Latihan Mindfulness

"Hidup itu perlu merayakan saat ini, disini-kini. Tidak terikat masa lalu dan tidak berkhayal masa depan." Aduh, aku mendadak bete, tadi aku udah nulis panjang lebar ternyata nggak kusave, jadinya hilang. Jadi musti ngulang dari awal. *garuk-garuk aspal*. Balik ke topik awal.  Sejujurnya pikiranku sangat liar dan sering loncat-loncat ke masa lalu & masa depan. Sangat sulit untuk di kontrol, sehingga aku nggak pernah bisa fokus untuk hadir saat ini.  Nah kalau sulit untuk fokus hadir saat ini, gimana bisa menikmati hidup? Aku masih sering berlatih, tapi hasilnya nggak bisa maksimal. Yaiyalah nin, semua butuh proses kelesss.. Jadi sejak kemarin kuputuskan untuk mencatat pengalaman hadir saat ini di notes mungil.  Di bawah ini, salah satu contoh kecil dari yang kutuliskan kemarin. Senin, 10 Juli 2017 06:14 kaki kananku kesemutan, kudengar jam di ruang ini berdetak tick-tock-tick-tock, kudengar mobil tetangga sebelah kanan dikeluarkan, burung di depan rumah berkicau sahut...

Babak baru (lagi)

Males ah nulis yang serius-serius. Nulis yang lucu-lucu aja. 

Menyederhanakan Hidup

Setelah aku mempraktekkan metode konmari-nya Marie Kondo, satu persatu masalah mulai terpecahkan. Sungguh mencengangkan, padahal isi bukunya cuma mengajarkan caranya beres-beres rumah. Tapi ternyata dengan membereskan barang-barang secara menyeluruh, aku jadi tahu apa yang kubutuhkan dan apa yang nggak kubutuhkan di dunia ini.  Dulunya aku banyak browsing tips dan trik untuk menyederhanakan hidup. Tapi nggak pernah tertarik untuk mencoba, karena mau hidup sederhana kok tipsnya ribet banget.  Setelah baca buku ajaibnya Marie Kondo, baru aku tercerahkan.  Ternyata cara termudah dan tercepat untuk menyederhanakan hidup menjadi lebih simpel adalah nggak menyimpan terlalu barang.  Jadi di saat semua orang konsumtif membeli barang, aku malah nafsu mengurangi barang wkwk. Setelah aku melakukan beres-beres secara menyeluruh, setiap pagi aku masih membuang 5 barang yang nggak penting lho. Saat menyortir aku cuma bilang, "Saat ini, aku nggak butuh ini, besok kalau perlu, inget...